Minggu, 10 September 2017

AWAL MULA BONEK - PASOEPATI BERDAMAI

Hasil gambar untuk PASOEPATIBONEK
INDONESIA mempunyai banyak tim sepakbola tradisional dan pendukung fanatik. AREMANIA, THE JAKMANIA, VIKING, BONEK, dan PASOEPATI adalah beberapa nama basis suporter yang memiliki banyak anggota. Namun, hubungan BONEK dan PASOEPATI mungkin menyimpan kisah unik dan mengharukan.
Dari kacamata sejarah, hubungan kedua suporter terlampau buruk, hingga ada istilah memakai baju BONEK di Solo sama saja cari mati, begitu juga sebaliknya. Seperti halnya perseteruan suporter lain, ada banyak pendapat mengenai asal muasal perseteruan PASOEPATI dan BONEK. Pada dasarnya, terdapat kecenderungan manusia untuk memperkuat pendapatnya sendiri.
Setiap kubu suporter selalu punya alasan sendiri-sendiri jika ditanyai kubu mana yang memulai lebih dulu. Sebelum berseteru, sebenarnya keduanya pernah berkawan seperti biasa, sewaktu klub kebanggaan PASOEPATI masih PELITA SOLO.
PASOEPATI pernah berkunjung ke Surabaya pada sekitar era 2000-an, begitupula sebaliknya Surabaya melakukan kunjungan balik. Dulu sempat dikenal slogan "From Solo with Love" dari Presiden PASOEPATI saat itu, Mayor Haristanto. Beliau memimpin aksi simpatik membagi bunga dari PASOEPATI sepanjang jalan menuju Stadion Tambaksari.
Namun, masalah suporter bukan hanya terkait satu organisasi yang solid dan terdata dengan jelas. Suporter terdiri dari orang-orang dengan berbagai latar belakang kepribadian dan sistem pola pikir. Itu pun belum ditambah faktor X yang berasal dari sebuah minuman khas suporter. Untuk permasalahan BONEK, warga Solo dan sekitarnya pun juga turut "ikut campur".
Puncaknya, pada tanggal 25 Januari 2011, kereta yang ditumpangi BONEK pasca mendukung tim kesayangan dari Bandung, menjadi sasaran empuk warga Solo dengan hujan batu yang mencekam. Semenjak itu hubungan kedua kelompok suporter sangat buruk, hingga baju "F**k Pasoepati" dan "BONEK J****k laku keras di pasaran.
Namun, semenjak kedua kelompok suporter mendukung tim asal Liga Primer Indonesia, yakni SOLO FC dan PERSEBAYA 1927, mulai munculah suporter-suporter berhati nurani. Tidak semua suporter yang mendiami suatu wilayah tertentu mendukung tim di kota tersebut, ada juga suporter yang merantau.
Walaupun sudah jauh dari stadion kesayangan, namun jiwa mereka masih tertambat di sana, dengan tidak merubah identitas sebagai suporter kampung halaman. Sebagai contoh, Hendro, seorang BONEK asal Kota Pahlawan ini bekerja di Solo dan memiliki tempat tinggal di kawasan Semanggi. Demi terciptanya perdamaian, lelaki berkacamata ini rela mengambil resiko menjalin hubungan dengan rekan-rekan PASOEPATI.
Kawal Perdamaian
Bukan hanya Hendro, masih banyak tokoh-tokoh dari kedua kelompok suporter yang bergerak di bawah radar untuk mengawal perdamaian keduanya, kebanyakan dari media social networking. Salah satu aksi nyata perdamaian ini adalah ketika rombongan BONEK menyempatkan diri untuk mengunjungi markas PASOEPATI Walet Merah (WAM), di dekat Pasar Tanggul, Warungmiri.
Pada 16 April 2011, sebelum mendukung PERSEBAYA 1927 di Semarang, puluhan BONEK bercengkerama dan sempat berfoto bersama pimpinan WAM, Iwan Walet. Ditraktir tahu kupat, Grandong, seorang BONEK berambut gimbal menyesal tidak sempat menghabiskannya karena harus mengkoordinir anggotanya.
Aksi lainnya digelar pada 7 Mei 2011, merupakan cetusan Mantan Presiden PASOEPATI, Mayor Haristanto, yang digelar di Bundaran Manahan. Spanduk "Kulo Nuwun Suroboyo" dibentangkan oleh sekelompok PASOEPATI untuk memberikan sinyal perdamaian menjelang kedua tim kesayangan bertemu.
Sebagai catatan, laga SOLO FC dan PERSEBAYA 1927 terpaksa dipindah ke Surabaya dengan alasan keamanan, dan inipun menjadi momentum jawaban itikad perdamaian dari PASOEPATI. "Saya salut dengan BONEK. Di saat media memojokkan mereka, mereka mau berubah. Justru kita (PASOEPATI-red) yang harusnya mau belajar dari mereka," ujar Mayor Haristanto membeberkan alasan aksi tersebut.
Melalui gol Nico Susanto dan Taufik, Persebaya 1927 mampu membuat tim tamu pulang tanpa poin. Namun, ada yang lebih bernilai dari skor hari itu, PASOEPATI merasa sambutan yang luar biasa dari tuan rumah. PASOEPATI yang berangkat dari Solo menggunakan kereta api dikawal langsung beberapa personil BONEK.
Oleh karena itulah, walaupun tidak bisa ikut touring, Mayor Haristanto kembali mengadakan aksi serupa di tempat yang sama pada 11 Mei 2011. Namun, kali ini pendiri Republik Aeng-Aeng ini mengajak sekelompok PASOEPATI membentangkan spanduk bertuliskan "Matur Nuwun BONEK".
"PASOEPATI yang ke Surabaya disambut luar biasa. Kita ditempatkan di tribun yang nyaman, belum lagi kita juga dikasih makanan oleh mereka. Seharusnya kita malu sama mereka," kenang Aim, seorang PASOEPATI sekaligus pemilik distro suporter.
BONEK - PASOEPATI SATOE NYALI EDAN TAPI MAPAN.. WANI..!!! 
LKM_PVB

AWAL MULA BONEK - PASOEPATI BERDAMAI

INDONESIA mempunyai banyak tim sepakbola tradisional dan pendukung fanatik. AREMANIA, THE JAKMANIA, VIKING, BONEK, dan PASOEPATI adalah b...